RYAN DENGAN CITA-CITANYA


 Dulu, ketika saya masih kecil, pertanyaan “Mau jadi apa kalau sudah besar?” selalu punya satu jawaban yang sama. Sejak saya masih di Taman Kanak-kanak (TK), setiap kali guru bertanya atau orang tua mengajak bicara soal masa depan, jawaban saya selalu: “Saya mau jadi tentara!” Cita-cita ini bukan sekadar keinginan sesaat, melainkan sebuah impian yang begitu kuat dan bertahan lama.

​Saya ingat, di usia itu, pandangan saya tentang tentara sangatlah sederhana. Mereka adalah pahlawan yang gagah berani, mengenakan seragam hijau dengan baret keren, dan selalu siap membela negara. Saya sering melihat mereka di televisi, berbaris dengan tegap, dan melakukan berbagai latihan yang terlihat sangat menantang. Kekaguman ini tumbuh subur di benak saya. Saya sering bermain perang-perangan dengan teman-teman, dan peran tentara adalah satu-satunya peran yang saya inginkan. Saya akan melilitkan kain di kepala sebagai baret dan berteriak-teriak "siap, laksanakan!" seolah-olah saya adalah seorang komandan.

​Ketika memasuki Sekolah Dasar (SD), cita-cita itu tidak goyah sedikit pun. Malah, ia semakin mengakar. Saya mulai memahami sedikit demi sedikit tugas dan peran tentara yang sebenarnya. Bukan hanya soal gagah-gagahan, tapi juga soal kedisiplinan, pengabdian, dan tanggung jawab besar. Saya mulai mencari buku-buku atau cerita tentang perjuangan para pahlawan dan tentara. Setiap kali ada pelajaran sejarah tentang perang atau perjuangan, mata saya akan berbinar. Saya membayangkan diri saya suatu hari nanti menjadi bagian dari mereka, mengabdi pada bangsa dan negara. Bahkan, saya sempat ikut ekstrakurikuler Pramuka karena saya menganggapnya sebagai langkah awal untuk melatih kedisiplinan dan mental.

​Namun, saat saya menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), impian itu masih bertahan, tetapi mulai sedikit terpengaruh oleh realitas. Saya mulai menyadari bahwa menjadi tentara bukanlah hal yang mudah. Ada tes fisik yang berat, tes mental, dan harus memiliki keberanian yang luar biasa. Meski begitu, semangat saya belum padam. Saya mulai rutin berolahraga, seperti lari pagi dan push-up, sebagai persiapan awal. Saya juga membaca lebih banyak tentang akademi militer dan persyaratan untuk bisa masuk. Tentara bagi saya bukan lagi sekadar simbol kegagahan, melainkan sebuah profesi yang menuntut pengorbanan dan dedikasi penuh.


Perubahan besar datang saat saya memasuki Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Saya mengambil jurusan yang berhubungan dengan teknik, dan di sana, pandangan saya tentang masa depan mulai bergeser. Saya bertemu dengan mata pelajaran baru dan dunia yang berbeda. Salah satu mata pelajaran yang menarik perhatian saya adalah menggambar teknik. Saya belajar membuat denah, rancangan, dan membaca peta. Dari sini, saya mulai mengenal profesi drafter dan surveyor.

​Drafter adalah orang yang membuat gambar teknis, sementara surveyor adalah orang yang mengukur dan memetakan lahan. Kedua profesi ini memiliki kaitan erat. Saya menyadari bahwa saya menikmati proses menggambar dengan presisi, menggunakan alat-alat seperti penggaris dan jangka. Ada kepuasan tersendiri ketika sebuah ide atau denah yang tadinya abstrak bisa saya wujudkan dalam bentuk gambar yang detail dan akurat.

​Saat itulah saya menyadari, cita-cita saya tidak harus sama dengan apa yang saya impikan di masa kecil. Saya menemukan gairah baru di bidang ini. Cita-cita menjadi tentara yang gagah berani perlahan-lahan digantikan oleh impian untuk menjadi drafter atau surveyor yang teliti dan akurat. Saya menyadari bahwa membangun sesuatu—sekalipun hanya di atas kertas—juga merupakan bentuk pengabdian. Mungkin bukan dalam wujud membela negara dengan senjata, tetapi dengan membangun infrastruktur yang berguna bagi banyak orang. Pergeseran ini mengajarkan saya bahwa cita-cita bisa berubah seiring waktu, dan menemukan gairah baru adalah bagian dari perjalanan hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

bintang javier ezar agata/24/atlet sepak bola

bintang javier/24/X DPIB 1(MEGATHRUST)

03.ACHMAD RYANDRA J. X DPIB 1