Albrianto Sastro Saputra X DPIB 1 cita cita
Setiap anak memiliki dunia imajinasi yang tak terbatas, tempat di mana cita-cita tumbuh subur dan berubah seiring dengan usia dan pengalaman. Saya pun tidak terkecuali. Perjalanan cita-cita saya sejak kecil adalah sebuah narasi tentang penemuan diri, pengaruh lingkungan, dan pemahaman yang semakin matang tentang dunia pekerjaan. Dari seorang pembalap yang berani hingga seorang drafter dan surveyor yang presisi, setiap fase mencerminkan babak baru dalam perkembangan pribadi saya.
Saat masih di Taman Kanak-kanak (TK), dunia terasa begitu sederhana dan penuh petualangan. Cita-cita saya kala itu adalah menjadi seorang pembalap. Gambaran mobil-mobil cepat yang melaju di lintasan, sorak-sorai penonton, dan trofi berkilauan adalah fantasi yang begitu memikat. Saya sering membayangkan diri saya mengenakan helm balap, mengendalikan kemudi dengan cekatan, dan merasakan adrenalin saat melewati garis finis pertama. Mungkin ini terinspirasi dari film kartun atau mainan mobil-mobilan yang sering saya mainkan, di mana kecepatan dan kemenangan adalah segalanya. Keinginan untuk menjadi yang tercepat dan terdepan adalah dorongan murni dari jiwa kanak-kanak yang penuh semangat.
Memasuki bangku Sekolah Dasar (SD), pandangan saya terhadap dunia mulai meluas. Pengaruh guru, orang tua, dan cerita-cerita heroik di buku pelajaran membentuk perspektif baru. Cita-cita pembalap yang penuh gairah itu perlahan tergantikan oleh keinginan yang lebih mulia: menjadi seorang dokter. Saya mulai memahami bahwa ada profesi yang berfokus pada membantu orang lain, menyembuhkan penyakit, dan meringankan penderitaan. Melihat dokter sebagai sosok pahlawan yang menyelamatkan nyawa, saya merasa terinspirasi untuk menjadi bagian dari mereka. Saya membayangkan diri saya mengenakan jas putih, stetoskop di leher, dan memberikan harapan kepada pasien. Keinginan untuk berkontribusi secara langsung pada kesehatan dan kesejahteraan masyarakat menjadi motivasi utama pada masa itu.
Perjalanan berlanjut ke Sekolah Menengah Pertama (SMP), di mana mata pelajaran seperti Geografi dan Matematika mulai menarik perhatian saya. Di sinilah cita-cita saya kembali bergeser, kali ini ke arah yang lebih teknis dan terstruktur: menjadi seorang surveyor. Saya mulai tertarik pada bagaimana bangunan-bangunan tinggi didirikan, bagaimana jalan raya dibangun, dan bagaimana peta dibuat dengan begitu akurat. Konsep pengukuran tanah, pemetaan wilayah, dan penggunaan alat-alat presisi untuk menentukan batas-batas dan kontur lahan terasa sangat menarik. Saya membayangkan diri saya bekerja di lapangan, mengamati bentang alam, dan menerjemahkan data menjadi informasi yang krusial untuk pembangunan. Ini adalah fase di mana saya mulai menghargai ketelitian, perencanaan, dan dampak nyata dari pekerjaan di bidang infrastruktur.
Puncak dari evolusi cita-cita ini terjadi saat saya menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Di sinilah saya menemukan jalur yang lebih spesifik dan praktis, yaitu menjadi seorang drafter dan surveyor. Kurikulum SMK yang berorientasi pada keterampilan praktis memperkuat minat saya pada bidang ini. Saya belajar tentang gambar teknik, desain arsitektur, dan penggunaan perangkat lunak CAD (Computer-Aided Design) untuk membuat cetak biru yang detail. Bersamaan dengan itu, pemahaman saya tentang survei lapangan semakin mendalam, mencakup penggunaan theodolite, GPS, dan alat ukur lainnya. Cita-cita ini bukan lagi sekadar impian, melainkan sebuah tujuan karier yang konkret, menggabungkan ketelitian seorang drafter dalam merancang detail dengan keakuratan seorang surveyor dalam mengukur dan memetakan. Saya melihat diri saya sebagai bagian integral dari setiap proyek pembangunan, dari konsep awal di atas kertas hingga implementasi di lapangan.
Dari lintasan balap yang penuh kecepatan, ruang operasi yang steril, hingga medan survei yang menantang dan meja gambar yang presisi, perjalanan cita-cita saya adalah cerminan dari pertumbuhan dan eksplorasi diri. Setiap fase membawa pelajaran baru dan membuka pandangan yang berbeda tentang bagaimana saya bisa berkontribusi pada dunia. Meskipun cita-cita berubah, benang merah dari keinginan untuk berprestasi, memberikan dampak, dan menguasai keterampilan tertentu tetap ada. Kini, dengan pemahaman yang lebih matang, saya siap untuk mengejar impian sebagai drafter dan surveyor, membawa presisi dan perencanaan ke dalam setiap langkah karier saya.
Komentar
Posting Komentar